Minggu, 15 Juni 2014

Koalisi antara Nasionalisme dan Globalisasi



Nasionalisme
        Suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia, Bentuk dari nasionalisme terdiri dari nasionalisme kewarganegaraan . nasonalisme aset negara dan kekayaan alam dan nasionalisme kebudayaan

Globalisasi
     Suatu sistem interaksi antara sejumlah negara didunia dengan tujuan untuk membangun ekonomi secara global atau mendunia. Globalisasi menunjuk pada integritasi ekonomi dan masyarakat dunia, cukup globalisasi ialah urusan teknologi, ekonomi, politik dan pertukaran infrastruktur lainnya.

Maka koalisi tersebut harus saling mendukung satu sama lainnya. Agar tercipta suatu keharmonisan yang terjalin. Karena dapat mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk kelompok manusia agar kita siap bersaing dan menerima globalisasi yang datang di negara kami. Maka kesejahteraan di negara kami dapat bekerja sama dengan negara lain
dan kita sebagai bangsa yang kaya akan kekayaan alam harus mau bangkit dan berjuang  untuk mengelola kekayaan alam yang kita miliki kemajuan di bidang teknologi sangat mempengaruhi daya persaingan dalam menghadapi era gelobalisasi dan pasar bebas.

menghilangkan fedophil

fedophil adalah sifat seseorang dimana dia mengukai pasangan yg umurnya jauh lebih uda di bandingnya ini adalah penyakit kejiwaan yang di tularkan kenapa begitu..?
karna pelaku fedophil adalah mantan korban dari kejahatan tersebut kebnyakan korban fedophil adalah anak laki- laki yang mendapatkan kekerasan sexsual dari pelaku fedophil.
Cara menghilangkan sifat tersebut di mului daru pembelajaran nilai moral dan agama yang harus kuat dan di khususkan terhadap koban-koban dari kejahatan tersebut sehingga dari kasus kekerasan sexsual yang menyimpang tersebut tidak muncul para predator-predator baru disini peran orang tua harus lebih kuat dalam megajarkan anaknya akan nilai moral yang baik . perlunya revolusi mental akan mendorng terbentuknya generasi muda yang pandai sopan bijaksana dan calon pemimpin yang berdikari. 

Rabu, 04 Juni 2014

7. Jalan keluar yang baik untuk lokalisasi

Jalan keluar yang baik untuk lokalisasi


Jalan keluar yang baik adalah  menggusur dan dalam satu kota di larang untuk membuka lokalisasi. Tapi kenyataannya kebijakan tersebut terdapat pro dan kontra yang memungkinnya tidak dapatnya kebijakan tersebut dilakukan  kegiatan menjual jasa hiburan sex dilarang keras oleh agama tetapi karna kegiatan ini melibatkan orang banyak dan penikmatnya (‘) yang kemungkinan susah di hilangkan maka tempat lokalisasi di tempatkan di satu daerah atau tempat hiburan sehingga tidak meracuni orang lain dengan segala kegiatan di dalamnya.  Tetapi yang terpenting adalah perbaikan moral bangsa  agar lebih baik.

6. Rencana ketika saya menjadi caleg

Rencana  ketika saya  menjadi caleg

Ketika saya menjadi calek adalah mengemas diri saya kemasyarakat dengan baik agar bisa terpilih mendatangi mulai dari desa-desa  kecamatan kelurahan daerah pemilihan bersosilisasi dengan pemuka agama mendekatkjan diri ke masyarakat mengungkapkan visi dan misi saya dengan pendekatan secara langsung membuat diri saya menjadi idola di masyarakat tentunya dengan pengalaman dan kerja nyata yang saya lakukan tetati bukan hanya janji saja.
Karna ketika saya menjadi idola masyarakat di daerah pemilihan maka bukan tidak mungkin saya akan terpilih menjadi anggota DPRD.


4. Nyi Ageng Serang

4. Nyi Ageng Serang 

bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Ia pahlawan nasional yang hampir terlupakan,mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien tapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini.Warga Kulon Progo mengabadikan monumen beliau di tengah kota Wates berupa patung beliau sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.


Bunga Kantil (Magnoli) Bunga Khas Provinsi Jawa Tengah

3. Bunga Kantil (Magnoli) Bunga Khas Provinsi Jawa Tengah
Cempaka putih atau kantil (Magnoli) adalah salah satu anggota suku Magnoliaceae Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dan beberapa negara tetangganya karena kuncup bunganya sering kali dipakai dalam upacara-upacara tradisional atau ritual tertentu. Secara botani, ia adalah hibrida (hasil persilangan) antara M. champaca dan M. Montana

Bunga cempaka putih atau kantil menjadi ciri khas bunga provinsi jawa tengah karna sejak jaman dahulu masyarakat provinsi jawa tengah kebanyakan beragama hindu budha. Maka kembang kantil atau cempaka putih di gunakan sebagai bunga yang selalu ada pada upacara upacara adat yang di adakan. Bunga kantil indentik dengan pemakaian atau penggunaan pada acara pemanggilan ruh  halus atau ruh para leluhur selain itu karna kuncup bunga yang indah bunga kantil banyak di budidayakan di daerah kebumen . purwakarta . dll

Ki Lurah Bagong

2. Ki Lurah Bagong


Ki Lurah Bagong  adalah nama salah satu tokoh punakawan dalam kisah pewayangan yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini dikisahkan sebagai anak bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga terdapat tokoh panakawan yang identik dengan Bagong, yaitu Cepot atau Astrajingga. Namun bedanya, menurut versi ini, Cepot adalah anak tertua Semar. Dalam wayang banyumasan Bagong lebih dikenal dengan sebutan Bawor.
Ciri fisik
Sebagai seorang panakawan yang sifatnya menghibur penonton wayang, tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal dan terkesan memble. Dalam figur wayang kulit, Bagong membawa senjata kudi.
Gaya bicara Bagong terkesan semaunya sendiri. Dibandingkan dengan ketiga panakawan lainnya, yaitu Semar, Gareng, dan Petruk, maka Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama. Meskipun demikian majikannya tetap bisa memaklumi.
Asal-usul
Beberapa versi menyebutkan bahwa, sesungguhnya Bagong bukan anak kandung Semar. Dikisahkan Semar merupakan penjelmaan seorang dewa bernama Batara Ismaya yang diturunkan ke dunia bersama kakaknya, yaitu Togog atau Batara Antaga untuk mengasuh keturunan adik mereka, yaitu Batara Guru.
Togog dan Semar sama-sama mengajukan permohonan kepada ayah mereka, yaitu Sanghyang Tunggal, supaya masing-masing diberi teman. Sanghyang Tunggal ganti mengajukan pertanyaan berbunyi, siapa kawan sejati manusia. Togog menjawab "hasrat", sedangkan Semar menjawab "bayangan". Dari jawaban tersebut, Sanghyang Tunggal pun mencipta hasrat Togog menjadi manusia kerdil bernama Bilung, sedangkan bayangan Semar dicipta menjadi manusia bertubuh bulat, bernama Bagong.
Versi lain menyebutkan, Semar adalah cucu Batara Ismaya. Semar mengabdi kepada seorang pertapa bernama Resi Manumanasa yang kelak menjadi leluhur para Pandawa. Ketika Manumanasa hendak mencapai moksha, Semar merasa kesepian dan meminta diberi teman. Manumanasa menjawab bahwa temannya yang paling setia adalah bayangannya sendiri. Seketika itu pula, bayangan Semar pun berubah menjadi manusia, dan diberi nama Bagong.
Bagong pada zaman Kolonial
Gaya bicara Bagong yang seenaknya sendiri sempat dipergunakan para dalang untuk mengkritik penjajahan kolonial Hindia Belanda. Ketika Sultan Agung meninggal tahun 1645, putranya yang bergelar Amangkurat I menggantikannya sebagai pemimpin Kesultanan Mataram. Raja baru ini sangat berbeda dengan ayahnya. Ia memerintah dengan sewenang-wenang serta menjalin kerja sama dengan pihak VOC-Belanda.
Keluarga besar Kesultanan Mataram saat itu pun terpecah belah. Ada yang mendukung pemerintahan Amangkurat I yang pro-Belanda, ada pula yang menentangnya. Dalam hal kesenian pun terjadi perpecahan. Seni wayang kulit terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan Nyai Panjang Mas yang anti-Amangkurat I, dan golongan Kyai Panjang Mas yang sebaliknya.
Rupanya pihak Belanda tidak menyukai tokoh Bagong yang sering dipergunakan para dalang untuk mengkritik penjajahan VOC. Atas dasar ini, golongan Kyai Panjang Mas pun menghilangkan tokoh Bagong, sedangkan Nyai Panjang Mas tetap mempertahankannya.
Pada zaman selanjutnya, Kesultanan Mataram mengalami keruntuhan dan berganti nama menjadi Kasunanan Kartasura. Sejak tahun 1745 Kartasura kemudian dipindahkan ke Surakarta. Selanjutnya terjadi perpecahan yang berakhir dengan diakuinya Sultan Hamengkubuwono I yang bertakhta di Yogyakarta.
Dalam hal pewayangan, pihak Surakarta mempertahankan aliran Kyai Panjang Mas yang hanya memiliki tiga orang panakawan (Semar, Gareng, dan Petruk), sedangkan pihak Yogyakarta menggunakan aliran Nyai Panjang Mas yang tetap mengakui keberadaan Bagong.

Akhirnya, pada zaman kemerdekaan Bagong bukan lagi milik Yogyakarta saja. Para dalang aliran Surakarta pun kembali menampilkan empat orang punakawan dalam setiap pementasan mereka. Bahkan, peran Bagong cenderung lebih banyak daripada Gareng yang biasanya hanya muncul dalam gara-gara saja.