2. Ki Lurah Bagong
Ki Lurah Bagong
adalah nama salah satu tokoh punakawan dalam kisah pewayangan yang
berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini dikisahkan sebagai anak
bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga terdapat tokoh panakawan yang identik
dengan Bagong, yaitu Cepot atau Astrajingga. Namun bedanya, menurut versi ini,
Cepot adalah anak tertua Semar. Dalam wayang banyumasan Bagong lebih dikenal
dengan sebutan Bawor.
Ciri fisik
Sebagai seorang panakawan yang sifatnya menghibur penonton
wayang, tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang
kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal dan terkesan memble.
Dalam figur wayang kulit, Bagong membawa senjata kudi.
Gaya bicara Bagong terkesan semaunya sendiri. Dibandingkan
dengan ketiga panakawan lainnya, yaitu Semar, Gareng, dan Petruk, maka Bagong
adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama. Meskipun demikian
majikannya tetap bisa memaklumi.
Asal-usul
Beberapa versi menyebutkan bahwa, sesungguhnya Bagong bukan
anak kandung Semar. Dikisahkan Semar merupakan penjelmaan seorang dewa bernama
Batara Ismaya yang diturunkan ke dunia bersama kakaknya, yaitu Togog atau
Batara Antaga untuk mengasuh keturunan adik mereka, yaitu Batara Guru.
Togog dan Semar sama-sama mengajukan permohonan kepada ayah
mereka, yaitu Sanghyang Tunggal, supaya masing-masing diberi teman. Sanghyang
Tunggal ganti mengajukan pertanyaan berbunyi, siapa kawan sejati manusia. Togog
menjawab "hasrat", sedangkan Semar menjawab "bayangan". Dari
jawaban tersebut, Sanghyang Tunggal pun mencipta hasrat Togog menjadi manusia
kerdil bernama Bilung, sedangkan bayangan Semar dicipta menjadi manusia
bertubuh bulat, bernama Bagong.
Versi lain menyebutkan, Semar adalah cucu Batara Ismaya.
Semar mengabdi kepada seorang pertapa bernama Resi Manumanasa yang kelak
menjadi leluhur para Pandawa. Ketika Manumanasa hendak mencapai moksha, Semar
merasa kesepian dan meminta diberi teman. Manumanasa menjawab bahwa temannya
yang paling setia adalah bayangannya sendiri. Seketika itu pula, bayangan Semar
pun berubah menjadi manusia, dan diberi nama Bagong.
Bagong pada zaman Kolonial
Gaya bicara Bagong yang seenaknya sendiri sempat
dipergunakan para dalang untuk mengkritik penjajahan kolonial Hindia Belanda.
Ketika Sultan Agung meninggal tahun 1645, putranya yang bergelar Amangkurat I
menggantikannya sebagai pemimpin Kesultanan Mataram. Raja baru ini sangat
berbeda dengan ayahnya. Ia memerintah dengan sewenang-wenang serta menjalin
kerja sama dengan pihak VOC-Belanda.
Keluarga besar Kesultanan Mataram saat itu pun terpecah
belah. Ada yang mendukung pemerintahan Amangkurat I yang pro-Belanda, ada pula
yang menentangnya. Dalam hal kesenian pun terjadi perpecahan. Seni wayang kulit
terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan Nyai Panjang Mas yang
anti-Amangkurat I, dan golongan Kyai Panjang Mas yang sebaliknya.
Rupanya pihak Belanda tidak menyukai tokoh Bagong yang
sering dipergunakan para dalang untuk mengkritik penjajahan VOC. Atas dasar
ini, golongan Kyai Panjang Mas pun menghilangkan tokoh Bagong, sedangkan Nyai
Panjang Mas tetap mempertahankannya.
Pada zaman selanjutnya, Kesultanan Mataram mengalami
keruntuhan dan berganti nama menjadi Kasunanan Kartasura. Sejak tahun 1745
Kartasura kemudian dipindahkan ke Surakarta. Selanjutnya terjadi perpecahan
yang berakhir dengan diakuinya Sultan Hamengkubuwono I yang bertakhta di
Yogyakarta.
Dalam hal pewayangan, pihak Surakarta mempertahankan aliran
Kyai Panjang Mas yang hanya memiliki tiga orang panakawan (Semar, Gareng, dan
Petruk), sedangkan pihak Yogyakarta menggunakan aliran Nyai Panjang Mas yang
tetap mengakui keberadaan Bagong.
Akhirnya, pada zaman kemerdekaan Bagong bukan lagi milik
Yogyakarta saja. Para dalang aliran Surakarta pun kembali menampilkan empat
orang punakawan dalam setiap pementasan mereka. Bahkan, peran Bagong cenderung
lebih banyak daripada Gareng yang biasanya hanya muncul dalam gara-gara saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar