Nama : Joan Riadi
Npm : 23412940
Kelas : 4IC01
Judul : BAB 11 – Studi Kasus Numerik Berkenaan Dengan Etika
Profesi
Studi Kasus Numerik Berkenaan Dengan Etika Profesi
Studi Kasus Komponen Pada Mobil Honda
Dalam kerusakan komponen Lost Motion Spring, kemungkinan
terburuk berpotensi mengakibatkan mesin mogok. Akibat masalah ini, Honda akan
menarik 30.252 unit Jazz, City dan Freed untuk dilakukan penggantian komponen
JAKARTA – Honda Prospect Motor (HPM) mengumumkan program
penggantian komponen Lost Motion Spring yang terdapat pada lengan penggerak
(rocker arm) mesin VTEC untuk sebagian Honda Jazz, City dan Freed yang
diproduksi dalam kurun waktu tertentu.
Jumlah total unit yang teridentifikasi di dalam program ini
adalah 30.252 unit. Komponen Lost Motion Spring, yang berfungsi menekan rocker
arm pada putaran mesin rendah, setelah kurun waktu tertentu dapat melengkung
dan patah sehingga menimbulkan bunyi mesin yang tidak normal.
Hingga saat ini, sebanyak 15 kasus telah dilaporkan
berhubungan dengan kerusakan komponen tersebut di Indonesia. Semua kasus
tersebut terjadi dalam kondisi mobil sedang berhenti (stasioner), sesaat
setelah mesin dihidupkan. Dalam kasus-kasus tersebut, bunyi abnormal yang
berlebihan akan muncul dan dapat terdengar. Tidak ada laporan mengenai
kecelakaan atau cedera yang pernah terjadi.
HPM berinisiatif untuk mengganti komponen Lost Motion Spring
pada semua mobil konsumen yang teridentifikasi tanpa mengenakan biaya, dan akan
memberikan pemberitahuan secara langsung kepada para pemilik mobil yang
teridentifikasi tersebut melalui surat yang dikirimkan oleh Dealer.
Konsumen yang mobilnya teridentifikasi disarankan untuk
melakukan booking di bengkel resmi Honda untuk penggantian komponen. Proses
penggantian komponen ini memakan waktu sekitar 3 jam (lihat tabel)
Aktivitas penggantian komponen ini mulai berjalan dari
tanggal 28 Februari 2011 di seluruh Jawa, serta dari tanggal 2 Maret 2011 untuk
wilayah luar Jawa. Program ini akan berlangsung selama 6 bulan.
HPM menjalankan program ini sebagai bagian dari program
global yang dijalankan oleh Honda Motor untuk memastikan standar yang paling
ketat untuk seluruh produknya.
“Merupakan tanggung jawab kami untuk memastikan bahwa
seluruh produk kami berada dalam standar tertingginya dalam hal keamanan dan
kualitas, bahkan ketika produk tersebut telah berada di tangan konsumen selama
bertahun-tahun. Karena itu, program ini merupakan bagian dari evaluasi
berkesinambungan yang kami lakukan terhadap seluruh produk demi mencapai
kepuasan pelanggan,” ungkap Yukihiro Aoshima, President Director PT HPM.
Studi Kasus Komponen Pada Pesawat Ulang Alik
Komponen pesawat Orbiter bersayap Delta dengan mesin
pengorbit
1. Pesawat Orbiter bersayap Delta dengan mesin pengorbit.
2. Tangki bahan bakar luar (External Tank/ Drop Tank)
3. Roket pendorong berbahan bakar padat (twin solid r
ockets)
Bagian-bagian pesawat Ulang Alik / Orbiter dan fungsinya :
1. Lambung depan, berfungsi sebagai kabin awak dan peralatan
kendali pesawat.
2. Lambung tengah, berfungsi sebagai ruang barang dan ruang
roda pendaratan.
3. Lambung belakang, berfungsi penopang tiga mesin utama
pesawat dan terdapat sirip di bawah mesin untuk mengubah sudut penerbangan
4. Sayap, berfungsi sebagai kendali manuver pesawat, baik
pada saat terbang maupun mendarat
5. Ekor berfungsi sebagai sirip/daun kemudi pesawat
Tahap peluncuran pesawat Ulang Alik :
1. Mesin pendorong utama berbahan bakar cair dan roket
pendorong berbahan bakar padat menyala secara bersamaan, sehingga membangitkan
31 juta newton tenaga untuk lepas landas
2. Sesudah beberapa menit (± 2 menit) ketika bahan bakar
pada roket pendorong habis terbakar dan telah mencapai kecepatan lebih dari
4800 Km/jam, roket pendorong dilepas dari pesawat dan jatuh ke dalam samudra
dengan parasut untuk diisi dan gunakan kembali, sedangkan tangki bahan bakar
eksternal dilepas ketika akan memasuki lapisan Atmospir.
3. Sesudah pesawat melewati lapisan Atmospir, pesawat Ulang
Alik menuju Orbitnya.
4. Sesudah misi selesai maka pesawat kembali ke bumi dan
terbang layaknya pesawat supersonik.
Kasus komponen pada Tangki Reactor
Kasus komponen pada Tangki Reactor menentukan rangkaian
suatu Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) yang lebih baik antara seri dan
parallel !!
SOLUSI:
Reaktor Tangki Alir Berpengaduk atau yang biasa dikenal
sebagai Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) merupakan jenis reactor dengan
model berupa tangki berpengaduk dan diasumsikan pengaduk yang bekerja dalam
tangki sangat sempurna sehingga konsentrasi tiap komponen dalam reactor seragam
sebesar konsentrasi aliran yang keluar dari reactor. Reaktor jenis ini
merupakan reactor yang umum digunakan dalam suatu industry. Dalam operasinya,
reactor ini sering digunakan dalam jumlah lebih dari satu dengan rangkaian
reactor disusun secara seri maupun paralel.
Pemilihan susunan rangkaian reactor dipengaruhi oleh berbagai
pertimbangan, tergantung keperluan dan maksud dari operasinya. Masing-masing
rangkaian memiliki kelebihan dan kekurangan, karena di dunia ini tidak ada yang
sempurna. Semua yang ada didunia ini saling melengkapi satu sama lainnya.
Secara umum, rangkaian reactor yang disusun secara seri itu lebih baik
dibanding secara parallel. Setidaknya ada 2 sisi yang dapat menjelaskan kenapa
rangkaian reactor secara seri itu lebih baik. Pertama, ditinjau dari konversi
reaksi yang dihasilkan dan yang kedua ditinjau dari sisi ekonomisnya.
Pertama, ditinjau dari konversi reaksinya. Feed yang masuk
ke reactor pertama dalam suatu rangkaian reactor susunan seri akan bereaksi
membentuk produk yang mana pada saat pertama ini masih banyak reaktan yang
belum bereaksi membentuk produk di reactor pertama, sehingga reactor
selanjutnya berfungsi untuk mereaksikan kembali reaktan yang belum bereaksi dan
seterusnya sampai mendapatkan konversi yang optimum. Secara sederhana, reaksi
yang berlangsung itu dapat dikatakan berkali-kali sampai konversinya optimum.
Konversi yang optimum merupakan maksud dari suatu proses produksi. Sementara
itu jika dengan reactor susunan parallel, dengan jumlah feed yang sama, maka
reaksi yang terjadi itu hanya sekali sehingga dimungkinkan masih banyak reaktan
yang belum bereaksi. Walaupun pada outletnya nanti akan dijumlahkan dari
masing-masing reactor, namun tetap saja konversinya lebih kecil, sebagai akibat
dari reaksi yang hanya terjadi satu kali.
Kedua, tinjauan ekonomisnya. Dalam pengadaan alat yg lain,
misal jika seri hanya memerlukan satu wadah untuk bahan baku (baik dari beton
ataupun stainless steel), dan konveyor yang digunakan juga cukup satu. Namun
jika paralel mungkin memerlukan wadah lebih dari satu ataupun konveyor yang
lebih dari satu untuk memasukkan feed ke masing-masing reactor. Konsekuensi
yang lain dari suatu reactor rangkain parallel adalah karena masih ada reaktan
yang banyak belum bereaksi maka dibutuhkan lah suatu recycle yang berakibat
pada bertambahnya alat untuk menampungnya, sehingga lebih mahal untuk
mendapatkan konversi yang lebih besar. Wallohu’alam.
Kasus Komponen Pada Air Pendingin Pada HX
Generator merupakan salah satu komponen yang harus
diperhatikan dalam suatu sistem pembangkit yang berfungsi sebagai alat pengubah
energi mekanik menjadi energi listrik. Ketika generator beroperasi, panas akan
timbul sebagai bentuk transformasi dari rugi-rugi pada inti besi maupun belitan
stator dan rotor. Pemasangan sistem pendingin merupakan salah satu cara supaya
panas yang timbul tidak melebihi batas ketentuan berdasarkan data desain atau
data commissioning-nya.
Pendinginan generator di PLTA Cirata dilakukan dengan
menggunakan alat penukar kalor yang disebut air cooler. Udara panas disekitar
kumparan generator dihembuskan melewati pipa-pipa pendingin pada air cooler
yang didalamnya mengalir air sebagai fluida penyerap panas. Air tersebut harus
terhindar dari material/senyawa yang dapat mengakibatkan timbulnya
endapan-endapan pada pipa pendingin. Apabila pada pipa-pipa tersebut terdapat
endapan, penyerapan panas oleh air akan berkurang. Hal ini menjadi penyebab
kemampuan/efektifitas alat pendingin mengalami penurunan.
Berdasarkan hasil perhitungan dari data desain, penyerapan
panas maksimum oleh air sebesar 1694,14 kW dengan efektifitas alat pendingin
sekitar 76,75%. Sedangkan dari kondisi aktualnya yang terjadi ketika beban
mencapai presentase sekitar 99,21% (125 MW) dari beban maksimumnya hanya
sebesar 645,93 kW dengan efektifitas sekitar 43,81%. Dari data tersebut
diketahui bahwa efektifitas alat pendingin mengalami penurunan sekitar 33%.
Untuk menanggulanginya dapat dilakukan dengan melaksanakan program pemeliharaan
yang dilakukan secara periodik atau dengan cara memperbaiki kualitas air
pendingin.
Sumber :
http://m-susanto.blogspot.com/2012_04_01_archive.html
http://johandwisatrio.blogspot.co.id/2013/05/studi-kasus-numerik-berkenaan-dengan_1.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar